Social Items

Cirebon adalah salah satu kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat. Cirebon mempunyai luas wilayah  3735.8 hektar dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut cerita yang berkembang Cirebon berasal dari kata caruban berarti campuran. Hal ini didasari oleh mayoritas masyarakat Cirebon dulunya merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut lslam. Menurut buku Sadjarah Banten, satu rombongan keluarga Cina pada awalnya mendarat dan menetap di Gresik.

Di Gresik mereka kemudian masuk Islam. Pada waktu itu di Gresik dakwah Islam disebarkan oleh sunan Gresik. Dalam rombongan keluarga Cina tadi masih ada seorang yang paling terkemuka ialah Cu-cu yang jua disebut Arya Sumangsang atau Prabu Anom. Keluarga Cu-cu ternyata bisa mencapai kedudukan & kehormatan tinggi pada Kesultanan Demak sebagai akibatnya mendapat agama pemerintah buat mendirikan perkampungan di daerah barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja, maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.

Akan tetapi, dalam satu versi lain nama Cirebon dari menurut istilah cai yg berarti air dan rebon yg berarti udang. Apabila diartikan holistik Cirebon adalah air udang. Pengambilan nama tadi memiliki sejarah mengenai secara umum dikuasai penduduk orisinil Caruban yg berprofesi menjadi petani tambak & produsen atau pun pedagang terasi jua udang. Dalam perkembangannya kita ketahui bahwa penduduk asli Caruban berprofesi sebagai nelayan dan pedagang, namun seiring ketika mereka mulai beralih profesi menjadi produsen petis yang bahannya asal dari udang rebon yg dicampur dengan air.

Dengan demikian, daerah Caruban berganti nama sebagai padukuhan Cirebon yang lalu kota ini berkembang pesat dan sebagai salah satu Bandar dagang yang terkenal di Jawa Barat, di kota Cirebon ini dalam masa kemudian jua berdiri kesultanan Cirebon yg merupakan kesultanan Islam terbesar selain kesultanan Banten.

Sejarah berdirinya kesultanan Cirebon sebagian para pakar sejarah terdapat yang beropini bahwa kesultanan Cirebon berdiri dalam tahun 1479 yang didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau yg dikenal menggunakan Sunan Gunung Jati. Pada awalnya Cirebon adalah wilayah hutan yg berpotensi menjadi kota akbar. Sunan Gunung Jati yang melihat bahwa wilayah tersebut sangat berpotensi untuk sebagai sebuah wilayah yang maju dan besar kemudian memerintahkan Walangsungsang yang adalah siswa kesayangannya buat menciptakan padukuhan di daerah tadi. Walangsungsang pada cerita-cerita lain kemudian dikenal dengan Ki Cakrabuana. Penunjukan Ki Cakrabuana bukan tanpa alasan, Syekh Idhofi memilihnya karena dia merupakan anak dari Prabu Siliwangi yg sedang menjabat menjadi Raja Sunda Padjajaran.

Ki Cakrabuana memberi nama wilayahnya sebagai Tegal Alang-alang sehabis membarui wilayah hutan itu sebagai sebuah pedukuhan kecil, lambat laun Tegal Alang-alang berubah nama sebagai padukuhan Caruban. Selain itu didukung letak strategis padukuhan Caruban yang berada di daerah pesisir menciptakan daerah itu banyak disinggahi oleh para pedagang dan Caruban sendiri menjadi sentral produsen udang & terasi sampai akhirnya para pendatang menetap di Caruban.

Padukuhan Caruban yang tadinya sepi berubah menjadi padukuhan yang ramai, hal itu juga menyebabkan agama Islam berkembang pesat di Caruban, setelah bertahun-tahun Ki Cakrabuana menjadi kepala Padukuhan atau Kuwu Caruban, Ki Cakrabuana akhirnya memberi jabatan kepala Padukuhan pada anak Rara Santang sekaligus menantunya yang bernama Syarif Hidayatullah. Saat itu Syarif Hidayatullah baru saja kembali dari Mesir mengikuti ayahnya seorang Raja Mesir, namun  setelah ayahnya wafat beliau kembali ke Caruban. Setelah menjabat sebagai kepala padukuhan Caruban, Syarif Hidayatullah membentuk pemerintahan Cirebon yang berbentuk kesultanan. Dalam perkembangannya, Cirebon selalu menjalin hubungan erat dengan Demak, terutama dalam bidang perdagangan.

Perkembangan Ajaran Islam di Cirebon

Para Ulama memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, begitu pula yang terjadi dalam penyebaran Islam di Cirebon. Ulama atau Syekh yang terkenal menyebarkan Islam pertama kali di Cirebon salah satunya adalah Syekh Quro. Dalam sebuah cerita Syekh Qura datang ke Kerajaan Sunda Padjajaran tahun 1418, yang kemudian beliau mendirikan pesantren di Karawang.

Kedatangan Syekh Qura menerima sambutan yg baik dari penduduk daerah Sunda Padjajaran yg ketika itu masih menganut kasta dalam lapisan sosialnya. Syekh Qura mengajarkan Islam yang tidak menganut sistem kasta pada interaksi sosial. Hingga pada suatu saat Raja menurut kerajaan Padjajaran yaitu Prabu Siliwangi jatuh cinta menggunakan santriwati Nyi Mas Subang Rancang putri menurut Ki Gede Tapa menurut Singapura yg sedang menuntut kepercayaan Islam pada pesantren Syekh Qura. Nyi Mas Subang Rancang lalu menikah menggunakan Prabu Siliwangi dengan cara Islam, walau dalam akhirnya Prabu Siliwangi pulang ke kepercayaan nenek moyang setelah Nyi Subang mangkat dunia.

Penyebaran agama Islam pada Cirebon pula nir bisa dilepaskan dari nama Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah merupakan raja pertama yang memerintah kesultanan Cirebon, pada masa pemerintahannya dia banyak menaklukkan loka buat berbagi agama Islam. Beliau juga poly mengelana ke semua pelosok Jawa suntuk mengajarkan kepercayaan Islam sinkron menggunakan cita-citanya, menyebarkan agama Islam pada Pulau Jawa.

Pada waktu pemerintahannya jua dia membangun Dewan Wali Sembilan atau yang lalu dikenal dengan Walisanga. Syarif Hidayatullah jua ikut andil dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Syekh Siti Jenar waktu itu dianggap sesat lantaran mengajarkan ajaran tasawuf Hulul yg belum pantas buat diajarkan dan disebarkan pada orang umum .

Munculnya kesultanan Cirebon sebagai sentra kegiatan ekonomi dan agama Islam pada Jawa Barat telah menyurutkan Kerajaan Pajajaran yg Hindu. Tetapi, Kerajaan Pajajaran tidak pernah berkonfrontasi menggunakan Cirebon, lantaran masih ada interaksi korelasi di antara keduanya.

Perkembangan dan Masa Keemasan

Bukan kesultanan atau kerajaan jika tidak menaklukkan suatu daerah dan menjadikan daerah itu masuk dalam daerah kekuasaan. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh kesultanan Cirebon. Pada awal pemerintahan Syarif Hidayatullah kesultanan Cirebon sering menaklukkan daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa. Tujuan dari penaklukan yang dilakukan oleh Syarif Hidayatullah bukan semata-mata untuk memperluas daerah kesultanan Cirebon, tapi juga untuk menyebarkan agama Islam.

Daerah pertama yg berhasil ditaklukkan sang kesultanan Cirebon adalah penaklukan atas Banten pada tahun 1525, lalu Sunda Kelapa dalam tahun 1527 yg dipimpin oleh panglima perang Fatahillah. Penaklukan Banten & Sunda Kelapa merupakan penaklukan kerjasama antara 2 kerajaan yaitu Kerajaan Demak dan kesultanan Cirebon yg bertujuan buat mengusir Portugis dari tanah Sunda Kelapa. Sunda Kelapa setelah dikuasai oleh Syarif Hidayatullah diganti nama menurut Sunda Kelapa sebagai Jayakarta & kemudian dia membuahkan Fatahillah sebagai Bupati Jayakarta.

Selain ketiga daerah tadi penaklukan diperluas pada wilayah Rajagaluh dalam tahun 1528, Rajagaluh adalah daerah kekuasaan kerajaan Galuh. Pada mulanya, padukuhan Cirebon yg belum sebagai sebuah kesultanan memberikan upeti berupa petis kepada Rajagaluh dalam rangka tunduk pada penguasa Galuh. Tetapi hal itu berhenti sesudah Syarif Hidayatullah manjadi Raja di Kesultanan Cirebon, pemberian upeti tadi diberhentikan sebagai wujud penolakan & mengukuhkan diri menjadi kesultanan yang merdeka lepas berdasarkan bayang-bayang kerajaan Galuh. Sikap demikian akhirnya memicu peperangan antara Kerajaan Galuh dan Kesultanan Cirebon, dalam perang tersebut dimenangkan oleh Kesultanan Cirebon yg ditandai menggunakan masuknya para pemimpin Rajagaluh ke Islam.

Penaklukan lainnya merupakan penaklukan Talaga yang terjadi pada tahun 1529. Akan namun, sebagian ahli sejarah tidak sependapat bahwa hal ini dinamakan penaklukan karena sebenarnya hanya terjadi kesalah pahaman di antara Prabu Pucuk Umun Mantri selaku penguasa Talaga & utusan Demak yg diutus sang Syarif Hidayatullah. Saat itu Kerajaan Demak telah menjalin hubungan diplomasi dengan Kesultanan Cirebon. Berawal dari utusan Demak yang bersuku Jawa kurang memahami pertanyaan berdasarkan Raja Talaga, akhirnya utusan tersebut keliru dalam menjawab pertanyaan berdasarkan Raja Talaga sampai membuat marah. Namun, kemarahan karena kesalah pahaman tersebut mampu diredam sang Syarif Hidayatullah dan Kesultanan Cirebon disambut baik bahkan Raja Talaga akhirnya memeluk kepercayaan Islam.

Pergolakan dan Runtuhnya Kerajaan

Runtuhnya Kesultanan Cirebon terjadi pada tahun 1666. Penyebab keruntuhan tersebut dilatarbelakangi atas fitnah yang dilakukan oleh mertua Panembahan Ratu II yang tak lain adalah penguasa Mataram Sultan Amangkurat I. berawal dari Sultan Amangkurat I yang memanggil Panembahan Ratu II untuk datang ke keraton Kartasura. Panembahan Ratu II datang dengan ditemani oleh kedua putranya yang bernama Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya memenuhi panggilan dari koleganya yang juga mertuanya tanpa perasaan curiga, namun setiba di Kartasura Sultan Amangkurat I memfitnah beliau, Sultan Amangkurat I mengatakan bahwa "Kesultanan Cirebon telah bersekongkol dengan Banten untuk menjatuhkan kekuasaan dirinya di Mataram". Tuduhan itu terjadi didasari oleh terbunuhnya selir kesayangan Sultan Amangkurat I yaitu Ratu Malang.

Atas dasar itu Sultan Amangkurat I dengan licik tega menangkap & mengasingkan Panembahan Ratu II, Panembahan Ratu II kemudian diasingkan di sebuah rumah yang berada di komplek Keraton Kertasura. Tepat setahun diasingkan di komplek Keraton Kertasura Pada tahun 1667 Panembahan Ratu II akhirnya wafat. Beliau dimakamkan pada bukit Girilaya. Selama kekosongan pemerintahan karena Panembahan Ratu II diasingkan, Mataram merogoh alih kekuasaan atas Kesultanan menggunakan menempatkan Tumenggung Martadipa.

Pengambilalihan kekuasaan sepihak atas Cirebon dengan cara yang licikoleh Kerajaan Mataram memancing amarah menurut penguasa Banten ketika itu Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa sangat murka terhadap perlakuan Raja Mataram, Sultan Amangkurat I kepada Panembahan Ratu II. Yg dianggap sudah mengkhianati menantunya sendiri.

Kemudian Sultan Agung Tirtayasa mengajak para pejuang Madura pengikut Trunajaya buat menyerang Keraton Cirebon yang ketika itu dikuasai oleh Mataram untuk membebaskan putra Panembahan Ratu II. Setelah pembebasan itu terjadi, Tumenggung Martadipa diusir keluar dari Keraton Cirebon. Putera Panembahan Ratu II yang bernama Wangsekerta yg masih berada pada Cirebon lalu diamankan ke Banten mengingat masih terbukanya peluang buat Mataram melancarkan serangan balasan. Sedangkan kedua putera Panembahan Ratu II yang diasingkan selama sepuluh tahun akhirnya dibebaskan dari Mataram.

Setelah kebebasan yang dihasilkan para putra Panembahan Ratu II, mereka dibawa ke Banten guna bertemu sang Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa lalu tetapkan mereka sebagai penguasa Cirebon menggunakan pembagian bahwa Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh sedangkan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom. Mulai ketika itulah kesultanan Cirebon terpecah. Pecahnya Kesultanan menjadi penanda runtuhnya kesultanan Cirebon. Masalah pecahnya Kesultanan Cirebon pula diperkeruh menggunakan adanya politik adu domba yang dilakukan oleh VOC dengan membuat perjanjian pada 7 Januari 1681 dimana isinya mengakui kebangsaan ketiga raja pada Cirebon.

Itulah sejarah berdirinya Kerajaan cirebon & sejarah perkembangan agama Islam di kerajaan cirebon, semoga goresan pena ini berguna & menambah wawasan pembaca. Semoga bermanfaat. Terima kasih

Sejarah Berdirinya dan Perkembangan Islam di Kerajaan Cirebon

SEMINAI

Cirebon adalah salah satu kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat. Cirebon mempunyai luas wilayah  3735.8 hektar dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut cerita yang berkembang Cirebon berasal dari kata caruban berarti campuran. Hal ini didasari oleh mayoritas masyarakat Cirebon dulunya merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut lslam. Menurut buku Sadjarah Banten, satu rombongan keluarga Cina pada awalnya mendarat dan menetap di Gresik.

Di Gresik mereka kemudian masuk Islam. Pada waktu itu di Gresik dakwah Islam disebarkan oleh sunan Gresik. Dalam rombongan keluarga Cina tadi masih ada seorang yang paling terkemuka ialah Cu-cu yang jua disebut Arya Sumangsang atau Prabu Anom. Keluarga Cu-cu ternyata bisa mencapai kedudukan & kehormatan tinggi pada Kesultanan Demak sebagai akibatnya mendapat agama pemerintah buat mendirikan perkampungan di daerah barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja, maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.

Akan tetapi, dalam satu versi lain nama Cirebon dari menurut istilah cai yg berarti air dan rebon yg berarti udang. Apabila diartikan holistik Cirebon adalah air udang. Pengambilan nama tadi memiliki sejarah mengenai secara umum dikuasai penduduk orisinil Caruban yg berprofesi menjadi petani tambak & produsen atau pun pedagang terasi jua udang. Dalam perkembangannya kita ketahui bahwa penduduk asli Caruban berprofesi sebagai nelayan dan pedagang, namun seiring ketika mereka mulai beralih profesi menjadi produsen petis yang bahannya asal dari udang rebon yg dicampur dengan air.

Dengan demikian, daerah Caruban berganti nama sebagai padukuhan Cirebon yang lalu kota ini berkembang pesat dan sebagai salah satu Bandar dagang yang terkenal di Jawa Barat, di kota Cirebon ini dalam masa kemudian jua berdiri kesultanan Cirebon yg merupakan kesultanan Islam terbesar selain kesultanan Banten.

Sejarah berdirinya kesultanan Cirebon sebagian para pakar sejarah terdapat yang beropini bahwa kesultanan Cirebon berdiri dalam tahun 1479 yang didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau yg dikenal menggunakan Sunan Gunung Jati. Pada awalnya Cirebon adalah wilayah hutan yg berpotensi menjadi kota akbar. Sunan Gunung Jati yang melihat bahwa wilayah tersebut sangat berpotensi untuk sebagai sebuah wilayah yang maju dan besar kemudian memerintahkan Walangsungsang yang adalah siswa kesayangannya buat menciptakan padukuhan di daerah tadi. Walangsungsang pada cerita-cerita lain kemudian dikenal dengan Ki Cakrabuana. Penunjukan Ki Cakrabuana bukan tanpa alasan, Syekh Idhofi memilihnya karena dia merupakan anak dari Prabu Siliwangi yg sedang menjabat menjadi Raja Sunda Padjajaran.

Ki Cakrabuana memberi nama wilayahnya sebagai Tegal Alang-alang sehabis membarui wilayah hutan itu sebagai sebuah pedukuhan kecil, lambat laun Tegal Alang-alang berubah nama sebagai padukuhan Caruban. Selain itu didukung letak strategis padukuhan Caruban yang berada di daerah pesisir menciptakan daerah itu banyak disinggahi oleh para pedagang dan Caruban sendiri menjadi sentral produsen udang & terasi sampai akhirnya para pendatang menetap di Caruban.

Padukuhan Caruban yang tadinya sepi berubah menjadi padukuhan yang ramai, hal itu juga menyebabkan agama Islam berkembang pesat di Caruban, setelah bertahun-tahun Ki Cakrabuana menjadi kepala Padukuhan atau Kuwu Caruban, Ki Cakrabuana akhirnya memberi jabatan kepala Padukuhan pada anak Rara Santang sekaligus menantunya yang bernama Syarif Hidayatullah. Saat itu Syarif Hidayatullah baru saja kembali dari Mesir mengikuti ayahnya seorang Raja Mesir, namun  setelah ayahnya wafat beliau kembali ke Caruban. Setelah menjabat sebagai kepala padukuhan Caruban, Syarif Hidayatullah membentuk pemerintahan Cirebon yang berbentuk kesultanan. Dalam perkembangannya, Cirebon selalu menjalin hubungan erat dengan Demak, terutama dalam bidang perdagangan.

Perkembangan Ajaran Islam di Cirebon

Para Ulama memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, begitu pula yang terjadi dalam penyebaran Islam di Cirebon. Ulama atau Syekh yang terkenal menyebarkan Islam pertama kali di Cirebon salah satunya adalah Syekh Quro. Dalam sebuah cerita Syekh Qura datang ke Kerajaan Sunda Padjajaran tahun 1418, yang kemudian beliau mendirikan pesantren di Karawang.

Kedatangan Syekh Qura menerima sambutan yg baik dari penduduk daerah Sunda Padjajaran yg ketika itu masih menganut kasta dalam lapisan sosialnya. Syekh Qura mengajarkan Islam yang tidak menganut sistem kasta pada interaksi sosial. Hingga pada suatu saat Raja menurut kerajaan Padjajaran yaitu Prabu Siliwangi jatuh cinta menggunakan santriwati Nyi Mas Subang Rancang putri menurut Ki Gede Tapa menurut Singapura yg sedang menuntut kepercayaan Islam pada pesantren Syekh Qura. Nyi Mas Subang Rancang lalu menikah menggunakan Prabu Siliwangi dengan cara Islam, walau dalam akhirnya Prabu Siliwangi pulang ke kepercayaan nenek moyang setelah Nyi Subang mangkat dunia.

Penyebaran agama Islam pada Cirebon pula nir bisa dilepaskan dari nama Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah merupakan raja pertama yang memerintah kesultanan Cirebon, pada masa pemerintahannya dia banyak menaklukkan loka buat berbagi agama Islam. Beliau juga poly mengelana ke semua pelosok Jawa suntuk mengajarkan kepercayaan Islam sinkron menggunakan cita-citanya, menyebarkan agama Islam pada Pulau Jawa.

Pada waktu pemerintahannya jua dia membangun Dewan Wali Sembilan atau yang lalu dikenal dengan Walisanga. Syarif Hidayatullah jua ikut andil dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Syekh Siti Jenar waktu itu dianggap sesat lantaran mengajarkan ajaran tasawuf Hulul yg belum pantas buat diajarkan dan disebarkan pada orang umum .

Munculnya kesultanan Cirebon sebagai sentra kegiatan ekonomi dan agama Islam pada Jawa Barat telah menyurutkan Kerajaan Pajajaran yg Hindu. Tetapi, Kerajaan Pajajaran tidak pernah berkonfrontasi menggunakan Cirebon, lantaran masih ada interaksi korelasi di antara keduanya.

Perkembangan dan Masa Keemasan

Bukan kesultanan atau kerajaan jika tidak menaklukkan suatu daerah dan menjadikan daerah itu masuk dalam daerah kekuasaan. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh kesultanan Cirebon. Pada awal pemerintahan Syarif Hidayatullah kesultanan Cirebon sering menaklukkan daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa. Tujuan dari penaklukan yang dilakukan oleh Syarif Hidayatullah bukan semata-mata untuk memperluas daerah kesultanan Cirebon, tapi juga untuk menyebarkan agama Islam.

Daerah pertama yg berhasil ditaklukkan sang kesultanan Cirebon adalah penaklukan atas Banten pada tahun 1525, lalu Sunda Kelapa dalam tahun 1527 yg dipimpin oleh panglima perang Fatahillah. Penaklukan Banten & Sunda Kelapa merupakan penaklukan kerjasama antara 2 kerajaan yaitu Kerajaan Demak dan kesultanan Cirebon yg bertujuan buat mengusir Portugis dari tanah Sunda Kelapa. Sunda Kelapa setelah dikuasai oleh Syarif Hidayatullah diganti nama menurut Sunda Kelapa sebagai Jayakarta & kemudian dia membuahkan Fatahillah sebagai Bupati Jayakarta.

Selain ketiga daerah tadi penaklukan diperluas pada wilayah Rajagaluh dalam tahun 1528, Rajagaluh adalah daerah kekuasaan kerajaan Galuh. Pada mulanya, padukuhan Cirebon yg belum sebagai sebuah kesultanan memberikan upeti berupa petis kepada Rajagaluh dalam rangka tunduk pada penguasa Galuh. Tetapi hal itu berhenti sesudah Syarif Hidayatullah manjadi Raja di Kesultanan Cirebon, pemberian upeti tadi diberhentikan sebagai wujud penolakan & mengukuhkan diri menjadi kesultanan yang merdeka lepas berdasarkan bayang-bayang kerajaan Galuh. Sikap demikian akhirnya memicu peperangan antara Kerajaan Galuh dan Kesultanan Cirebon, dalam perang tersebut dimenangkan oleh Kesultanan Cirebon yg ditandai menggunakan masuknya para pemimpin Rajagaluh ke Islam.

Penaklukan lainnya merupakan penaklukan Talaga yang terjadi pada tahun 1529. Akan namun, sebagian ahli sejarah tidak sependapat bahwa hal ini dinamakan penaklukan karena sebenarnya hanya terjadi kesalah pahaman di antara Prabu Pucuk Umun Mantri selaku penguasa Talaga & utusan Demak yg diutus sang Syarif Hidayatullah. Saat itu Kerajaan Demak telah menjalin hubungan diplomasi dengan Kesultanan Cirebon. Berawal dari utusan Demak yang bersuku Jawa kurang memahami pertanyaan berdasarkan Raja Talaga, akhirnya utusan tersebut keliru dalam menjawab pertanyaan berdasarkan Raja Talaga sampai membuat marah. Namun, kemarahan karena kesalah pahaman tersebut mampu diredam sang Syarif Hidayatullah dan Kesultanan Cirebon disambut baik bahkan Raja Talaga akhirnya memeluk kepercayaan Islam.

Pergolakan dan Runtuhnya Kerajaan

Runtuhnya Kesultanan Cirebon terjadi pada tahun 1666. Penyebab keruntuhan tersebut dilatarbelakangi atas fitnah yang dilakukan oleh mertua Panembahan Ratu II yang tak lain adalah penguasa Mataram Sultan Amangkurat I. berawal dari Sultan Amangkurat I yang memanggil Panembahan Ratu II untuk datang ke keraton Kartasura. Panembahan Ratu II datang dengan ditemani oleh kedua putranya yang bernama Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya memenuhi panggilan dari koleganya yang juga mertuanya tanpa perasaan curiga, namun setiba di Kartasura Sultan Amangkurat I memfitnah beliau, Sultan Amangkurat I mengatakan bahwa "Kesultanan Cirebon telah bersekongkol dengan Banten untuk menjatuhkan kekuasaan dirinya di Mataram". Tuduhan itu terjadi didasari oleh terbunuhnya selir kesayangan Sultan Amangkurat I yaitu Ratu Malang.

Atas dasar itu Sultan Amangkurat I dengan licik tega menangkap & mengasingkan Panembahan Ratu II, Panembahan Ratu II kemudian diasingkan di sebuah rumah yang berada di komplek Keraton Kertasura. Tepat setahun diasingkan di komplek Keraton Kertasura Pada tahun 1667 Panembahan Ratu II akhirnya wafat. Beliau dimakamkan pada bukit Girilaya. Selama kekosongan pemerintahan karena Panembahan Ratu II diasingkan, Mataram merogoh alih kekuasaan atas Kesultanan menggunakan menempatkan Tumenggung Martadipa.

Pengambilalihan kekuasaan sepihak atas Cirebon dengan cara yang licikoleh Kerajaan Mataram memancing amarah menurut penguasa Banten ketika itu Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa sangat murka terhadap perlakuan Raja Mataram, Sultan Amangkurat I kepada Panembahan Ratu II. Yg dianggap sudah mengkhianati menantunya sendiri.

Kemudian Sultan Agung Tirtayasa mengajak para pejuang Madura pengikut Trunajaya buat menyerang Keraton Cirebon yang ketika itu dikuasai oleh Mataram untuk membebaskan putra Panembahan Ratu II. Setelah pembebasan itu terjadi, Tumenggung Martadipa diusir keluar dari Keraton Cirebon. Putera Panembahan Ratu II yang bernama Wangsekerta yg masih berada pada Cirebon lalu diamankan ke Banten mengingat masih terbukanya peluang buat Mataram melancarkan serangan balasan. Sedangkan kedua putera Panembahan Ratu II yang diasingkan selama sepuluh tahun akhirnya dibebaskan dari Mataram.

Setelah kebebasan yang dihasilkan para putra Panembahan Ratu II, mereka dibawa ke Banten guna bertemu sang Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa lalu tetapkan mereka sebagai penguasa Cirebon menggunakan pembagian bahwa Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh sedangkan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom. Mulai ketika itulah kesultanan Cirebon terpecah. Pecahnya Kesultanan menjadi penanda runtuhnya kesultanan Cirebon. Masalah pecahnya Kesultanan Cirebon pula diperkeruh menggunakan adanya politik adu domba yang dilakukan oleh VOC dengan membuat perjanjian pada 7 Januari 1681 dimana isinya mengakui kebangsaan ketiga raja pada Cirebon.

Itulah sejarah berdirinya Kerajaan cirebon & sejarah perkembangan agama Islam di kerajaan cirebon, semoga goresan pena ini berguna & menambah wawasan pembaca. Semoga bermanfaat. Terima kasih

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.